Pages

Labels

Tampilkan postingan dengan label Terlalu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Terlalu. Tampilkan semua postingan

Kamis, 06 Maret 2014

Trofi Tak Terlalu Penting Bagi Rodgers

Brendan Rodgers. (Foto: Reuters) Brendan Rodgers. (Foto: Reuters) LIVERPOOL - Pelatih Liverpool, Brendan Rodgers, menilai bahwa sebuah trofi di akhir musim bukan hal yang terlalu penting. Mengembangkan potensi pemain, dinilainya sebagai yang lebih baik.

Sejak kedatangannya ke Anfield pada 2012, Rodgers tak terlalu bagus mengakhiri musim perdananya bersama Liverpool. Posisi ketujuh menjadi pencapaian akhir Steven Gerrard dkk kala itu.

Pada musim ini, Liverpool mulai beranjak lebih baik dan sentuhan Rodgers mulai nampak memberikan hal yang positif. Sementara, Liverpool berada di posisi kedua klasemen Premier League dan hanya kalah empat angka dari Chelsea yang berada di peringkat pertama.

Melihat kondisi tersebut, Liverpool memiliki asa untuk meraih gelar juara dan pastinya bermain di Liga Champions. Akan tetapi, Rodgers enggan menjadi hal tersebut sebagai prioritas utama, meski trofi akan membuat karier akan lebih indah.

"Ketika saya akhirnya pensiun dari sepakbola, saya ingin bisa melihat ke belakang dan mengenang bahwa saya bukan cuma meraih trofi tetapi juga mengembangkan sebuah klub sepakbola yang mengembangkan pemainnya sendiri dan membuat mereka jadi lebih baik," ujar Rodgers dilansir Goal.

"Para pelatih lain mungkin berbeda (pandangan) dan bisa jadi cuma ingin memenangi trofi tapi buat saya kesukesan bukan cuma meraih trofi di akhir musim saja," sambung pelatih berusia 41 tahun ini.
(min)


View the original article here

Trofi Tak Terlalu Penting Bagi Rodgers

Brendan Rodgers. (Foto: Reuters) Brendan Rodgers. (Foto: Reuters) LIVERPOOL - Pelatih Liverpool, Brendan Rodgers, menilai bahwa sebuah trofi di akhir musim bukan hal yang terlalu penting. Mengembangkan potensi pemain, dinilainya sebagai yang lebih baik.

Sejak kedatangannya ke Anfield pada 2012, Rodgers tak terlalu bagus mengakhiri musim perdananya bersama Liverpool. Posisi ketujuh menjadi pencapaian akhir Steven Gerrard dkk kala itu.

Pada musim ini, Liverpool mulai beranjak lebih baik dan sentuhan Rodgers mulai nampak memberikan hal yang positif. Sementara, Liverpool berada di posisi kedua klasemen Premier League dan hanya kalah empat angka dari Chelsea yang berada di peringkat pertama.

Melihat kondisi tersebut, Liverpool memiliki asa untuk meraih gelar juara dan pastinya bermain di Liga Champions. Akan tetapi, Rodgers enggan menjadi hal tersebut sebagai prioritas utama, meski trofi akan membuat karier akan lebih indah.

"Ketika saya akhirnya pensiun dari sepakbola, saya ingin bisa melihat ke belakang dan mengenang bahwa saya bukan cuma meraih trofi tetapi juga mengembangkan sebuah klub sepakbola yang mengembangkan pemainnya sendiri dan membuat mereka jadi lebih baik," ujar Rodgers dilansir Goal.

"Para pelatih lain mungkin berbeda (pandangan) dan bisa jadi cuma ingin memenangi trofi tapi buat saya kesukesan bukan cuma meraih trofi di akhir musim saja," sambung pelatih berusia 41 tahun ini.
(min)


View the original article here

Selasa, 26 November 2013

MotoGP Dinilai 'Terlalu Spanyol'

Jakarta - MotoGP musim 2013 berlangsung sengit dengan perebutan juara dunia baru tuntas di seri pamungkas. Namun muncul kekhawatiran kalau MotoGP mulai monoton dan membosankan terkait dominasi rider Spanyol dan dua pabrikan.

Marc Marquez harus berjuang sampai seri terakhir di Valencia sebelum bisa mengukir sejarah menjadi pebalap termuda yang meraih gelar juara dunia MotoGP. Di klasemen akhir, rookie berusia 20 tahun itu cuma unggul empat angka atas Jorge Lorenzo di posisi kedua.

Secara umum, musim balap 2013 berjalan sengit terkait duel dua pebalap tersebut. Namun ada juga yang menilai kalau MotoGP mulai menunjukkan gejala seperti F1: muncul dominasi-dominasi yang membuatnya menjadi sedikit membosankan.

Yang pertama adalah terkait dominasi Honda dan Yamaha. Kedua pabrikan asal Jepang itu menyapu bersih 18 seri yang digelar musim ini. Dominasi mereka diyakini akan bertahan hingga beberapa musim mendatang karena Ducati belum mampu bangkit sementara Kawasaki, Suzuki dan Aprilia dipastikan belum akan ada di atas lintasan musim depan.

Hal lainnya adalah soal dominasi Spanyol. Dari 18 balapan, rider-rider Spanyol (baca: Marquez dan Lorenzo) mengumpulkan 17 kemenangan. Satu-satunya yang berhasil menyelingi keduanya adalah Valentino Rossi.

Betapa berjayanya Spanyol juga terlihat di kelas Moto2 dan Moto3. Pol Espargaro dan Maverick Vinales yang jadi juara dunia di dua kelas tersebut juga sama-sama berpaspor Spanyol.

Di kelas Moto2, dari 17 seri yang digelar 13 di antaranya dimenangi rider Spanyol. Sementara pada Moto2, pebalap-pebalap negeri matador bahkan menyapu bersih kemenangan di 17 balapan.Next

(din/krs)

View the original article here


This post was made using the Auto Blogging Software from WebMagnates.org This line will not appear when posts are made after activating the software to full version.

Sabtu, 23 November 2013

MotoGP Dinilai 'Terlalu Spanyol'

Jakarta - MotoGP musim 2013 berlangsung sengit dengan perebutan juara dunia baru tuntas di seri pamungkas. Namun muncul kekhawatiran kalau MotoGP mulai monoton dan membosankan terkait dominasi rider Spanyol dan dua pabrikan.

Marc Marquez harus berjuang sampai seri terakhir di Valencia sebelum bisa mengukir sejarah menjadi pebalap termuda yang meraih gelar juara dunia MotoGP. Di klasemen akhir, rookie berusia 20 tahun itu cuma unggul empat angka atas Jorge Lorenzo di posisi kedua.

Secara umum, musim balap 2013 berjalan sengit terkait duel dua pebalap tersebut. Namun ada juga yang menilai kalau MotoGP mulai menunjukkan gejala seperti F1: muncul dominasi-dominasi yang membuatnya menjadi sedikit membosankan.

Yang pertama adalah terkait dominasi Honda dan Yamaha. Kedua pabrikan asal Jepang itu menyapu bersih 18 seri yang digelar musim ini. Dominasi mereka diyakini akan bertahan hingga beberapa musim mendatang karena Ducati belum mampu bangkit sementara Kawasaki, Suzuki dan Aprilia dipastikan belum akan ada di atas lintasan musim depan.

Hal lainnya adalah soal dominasi Spanyol. Dari 18 balapan, rider-rider Spanyol (baca: Marquez dan Lorenzo) mengumpulkan 17 kemenangan. Satu-satunya yang berhasil menyelingi keduanya adalah Valentino Rossi.

Betapa berjayanya Spanyol juga terlihat di kelas Moto2 dan Moto3. Pol Espargaro dan Maverick Vinales yang jadi juara dunia di dua kelas tersebut juga sama-sama berpaspor Spanyol.

Di kelas Moto2, dari 17 seri yang digelar 13 di antaranya dimenangi rider Spanyol. Sementara pada Moto2, pebalap-pebalap negeri matador bahkan menyapu bersih kemenangan di 17 balapan.Next

(din/krs)

View the original article here


This post was made using the Auto Blogging Software from WebMagnates.org This line will not appear when posts are made after activating the software to full version.